The Survival Lottery

etika organ tubuh ketika satu nyawa dikorbankan untuk menyelamatkan lima orang

The Survival Lottery
I

Bayangkan pagi ini kita sedang minum kopi dengan tenang, lalu terdengar ketukan pelan di pintu. Ada surat resmi dari pemerintah yang datang diantar seorang petugas. Kita membukanya dengan santai, tapi kalimat pertamanya langsung membuat jantung berhenti berdetak: "Selamat, Anda terpilih dalam undian hari ini."

Tapi, tunggu dulu. Ini bukan undian berhadiah miliaran rupiah atau mobil mewah. Ini adalah undian nyawa.

Dalam surat itu tertulis bahwa kita harus segera melapor ke rumah sakit terdekat. Hari ini juga, hidup kita akan diakhiri tanpa rasa sakit. Mengapa? Karena organ tubuh kita—jantung, sepasang ginjal, liver, dan paru-paru—akan diambil untuk menyelamatkan lima orang lain yang sedang sekarat. Kita harus mati hari ini, agar lima orang asing bisa tetap hidup.

Skenario ini terdengar seperti film horor distopia. Namun, mari kita tarik napas sejenak dan berpikir kritis. Kalau kita mau murni menggunakan hitung-hitungan matematika, bukankah mengorbankan satu nyawa demi menyelamatkan lima nyawa adalah sebuah kesepakatan yang sangat menguntungkan bagi umat manusia?

II

Mari kita mundur sejenak ke tahun 1975. Di masa itu, seorang filsuf bernama John Harris menulis sebuah esai provokatif berjudul The Survival Lottery. Premisnya sangat sederhana, namun cukup gila untuk membuat para akademisi berdebat panjang.

Harris meminta kita membayangkan sebuah dunia di mana teknologi medis sudah sangat sempurna. Transplantasi organ selalu berhasil seratus persen tanpa ada penolakan tubuh. Namun, dunia fiksi ini punya satu masalah nyata yang juga kita hadapi saat ini: pasokan organ donor sangat langka. Ribuan orang mati setiap hari hanya karena menunggu donor jantung atau ginjal yang tak kunjung tiba.

Lalu, Harris memunculkan ide matematisnya. Daripada membiarkan dua orang mati karena kelangkaan organ, kenapa kita tidak membuat sistem lotere komputer raksasa?

Semua orang sehat diberi nomor undian. Ketika ada dua atau lebih pasien sekarat yang butuh organ, komputer akan mengacak nomor. Siapa pun yang nomornya keluar, dia akan dikorbankan. Organ tubuhnya akan dibongkar dan dibagikan. Lewat skema ini, angka kematian akibat kegagalan organ akan turun drastis. Secara statistik, jumlah nyawa yang selamat jauh lebih banyak daripada jumlah yang dikorbankan.

Terdengar efisien? Sangat. Tapi kenapa perut kita terasa mual memikirkannya?

III

Secara insting, saya yakin kita semua langsung berteriak, "Itu pembunuhan terang-terangan!" Kita merasa jijik, ngeri, dan marah. Tapi dari sudut pandang filosofi utilitarianisme, keputusan ini justru dinilai sangat bermoral.

Utilitarianisme adalah paham yang menilai kebaikan berdasarkan seberapa banyak kebahagiaan—atau nyawa—yang bisa dipertahankan secara maksimal. Kalau matematika memihak pada lima nyawa berbanding satu, kenapa otak kita menolak keras ide lotere ini?

Pernahkah teman-teman mendengar eksperimen psikologi klasik bernama Trolley Problem? Bayangkan kita berdiri di dekat rel kereta. Ada kereta melaju tak terkendali ke arah lima pekerja yang terikat di rel. Kita punya pilihan: membiarkan kelimanya mati tertabrak, atau menarik tuas agar kereta berbelok ke rel lain yang hanya ada satu pekerja.

Studi menunjukkan, mayoritas dari kita akan memilih menarik tuas itu. Kita merasa "oke" mengorbankan satu demi lima.

Lalu, apa bedanya menarik tuas kereta dengan mencabut organ orang sehat dari undian pemerintah? Keduanya sama-sama menukar satu nyawa demi lima nyawa. Kenapa yang satu terasa seperti keputusan heroik yang tragis, sementara yang lain terasa seperti kejahatan psikopat tingkat tinggi? Pasti ada sesuatu yang tersembunyi di balik cara kerja otak kita.

IV

Jawabannya ternyata ada di dalam sirkuit neurobiologi dan pondasi psikologi sosial kita.

Para ahli saraf menggunakan mesin fMRI untuk memindai otak orang-orang yang sedang memikirkan dilema moral semacam ini. Saat kita dihadapkan pada pilihan "menarik tuas" dari kejauhan, bagian otak bernama prefrontal cortex menyala terang. Ini adalah pusat logika dan kalkulasi manusia. Otak kita berhitung secara dingin: lima jelas lebih besar dari satu.

Tapi, saat kita membayangkan skenario The Survival Lottery—di mana kita harus secara aktif membedah orang sehat, merampas otonomi tubuhnya, dan membunuhnya secara langsung—bagian otak bernama amygdala langsung meledak. Amygdala adalah pusat alarm emosi dan rasa takut. Evolusi jutaan tahun telah memprogram otak kita untuk menganggap pembunuhan terencana secara tatap muka sebagai sebuah ancaman mutlak terhadap kelangsungan spesies. Kita dirancang untuk menolaknya dengan rasa jijik.

Di luar masalah anatomi otak, ada satu elemen psikologis yang paling vital: ilusi kendali dan rasa percaya pada peradaban.

Konsep undian nyawa ini menghancurkan fondasi dasar mengapa manusia mau hidup berkelompok. Sejak zaman prasejarah, kita berkumpul membentuk suku, membangun kota, dan membuat hukum karena kita ingin merasa aman. Jika dokter yang seharusnya menyelamatkan nyawa tiba-tiba berubah peran menjadi algojo yang memegang tiket undian, rasa percaya kita pada institusi sosial akan runtuh total.

Kita akan terus hidup dalam teror. Kita tidak akan berani lagi keluar rumah, apalagi pergi ke rumah sakit walau hanya untuk mengobati flu. Kehancuran sosial akibat ketakutan massal ini, secara paradoks, justru jauh lebih mematikan daripada membiarkan lima orang sekarat secara alami.

V

Pada akhirnya, John Harris sebenarnya tidak pernah benar-benar ingin pemerintah menerapkan undian mengerikan ini. Ia tidak sedang membuat proposal kebijakan publik. Ia menulis The Survival Lottery murni sebagai sebuah cermin.

Cermin ini menantang kita untuk menyadari betapa rumitnya moralitas manusia. Kisah ini mengajarkan kita satu batas yang sangat tegas: nyawa manusia bukanlah sekadar deretan angka di atas lembar kerja Excel.

Sains, teknologi, dan matematika bisa memberi tahu dokter cara mengoperasi organ dengan presisi tingkat tinggi demi menyelamatkan banyak orang. Namun, empati dan etika kitalah yang memegang kendali atas kapan dan bagaimana pisau bedah itu boleh digunakan. Sebagai manusia, kita tidak dirancang untuk hidup sekadar menjadi mesin kalkulator yang dingin. Kita bisa bertumbuh pesat karena kita menghargai kebebasan individu dan hak atas tubuh kita sendiri.

Jadi, saat teman-teman merebahkan diri dan mengunci pintu rumah malam ini, tersenyumlah. Kita bisa tidur dengan sangat nyenyak karena kita tahu, besok pagi tidak akan ada tukang pos yang datang membawa surat resmi untuk mengambil ginjal kita. Kemanusiaan kita, syukurlah, ternyata jauh lebih indah dan rumit daripada sekadar hitungan matematika.